Pada waktu muda Sunan Kalijaga bernama Raden Said atau Jaka
Said. Kemudian ia disebut juga dengan nama Syekh Malaya, Lokajaya, Raden
Abdurraman dan Pangeran Tuban. Di dalam Babad Tanah Jawi disebut bahwa Raden
Said adalah putra Tumenggung Wilatikta, Adipati Tuban. Sedangkan Arya
Wilatikta, ayah Sunan Kalijaga, menurut Babad Tuban, adalah putra Arya Teja.
Disebutkan pula bahwa Arya Teja bukanlah seorang pribumi jawa. Ia berasal dari
kalangan masyarakat Arab dan merupakan seorang ulama. Ia berhasil mengislamkan
Raja Tuban, Arya Dikara, dan memperoleh seorang putrinya. Dengan jalan ini ia
akhirnya berhasil menjadi kepala negara Tuban, menggunakan kedudukan mertuanya.
Akan tetapi Babad Tuban tidak menjelaskan mengenai asal-usul Arya Wilatikta,
ayahanda Sunan Kalijaga itu.
Dalam Babad Cerbon naskah Nr. 36 koleksi Brandes, dijumpai
keterangan bahwa ayahanda Sunan Kalijaga bernama Arya Sidik, dijuluki “Arya ing
Tuban” Arya Sadik dipastikan merupakan perubahan dari nama Arya Sidik, dan nama
ini merupakan nama asli dari ayahanda Sunan Kalijaga, yang menurut Babad Tuban
bukan seorang pribumi jawa, melainkan berasal dari kalangan masyarakat Arab dan
merupakan seorang ulama.
Tahun kelahiran serta wafat Sunan Kalijaga belum dapat
dipastikan, hanya diperkirakan ia mencapai usia lanjut. Diperkirakan ia lahir ±
1450 M berdasarkan atas suatu sumber yang menyatakan bahwa Sunan Kalijaga kawin
dengan putri Sunan Ampel pada usia ±20 tahun, yakni tahun 1470. Sedangkan Sunan
Ampel lahir pada tahun 1401 dan mempunyai anak wanita yang dikawini oleh Sunan
Kalijaga itu pada waktu ia berusia 50 tahun.
Masa hidupnya mengalami 3 masa pemerintahan, yaitu masa
akhir Majapahit, zaman Kasultanna Demak dan Kasultanan Pajang. Kerajaan
Majapahit runtuh pada tahun 1478 M, kemudian disusul Kasultanan Demak berdiri pada tahun 1481-1546 M, dan
disusul pula Kasultanan Pajang yang diperkirakan berakhir pada t ahun 1568 M.
diperkirakan, pada tahun 1580 M Sunan Kalijaga wafat. Hal ini dapat dihubungkan
dengan gelar kepala Perdikan Kadilangu semula adalah Sunan Hadi, tetapi pada
Mas Jolang di Mataram (1601-1603), gelar itu diganti dengan sebutan Panembahan
Hadi. Dengan demikian, Sunan Kalijaga sudah diganti putranya sebagai Kepala
Perdikan Kadilangu sebelum zaman mas Jolang yaitu sejak berdirinya kesultanan
Mataram pemerintahan Panembahan Senopati atau Sutawijaya (1675-1601). Dan pada
awal pemerintahan Mataram, menurut Babad Tanah Jawi versi Meisma, dinyatakan
Sunan Kalijaga pernah datang ke tempat kediaman Panembahan Senopati di Mataram
memberikan saran bagaimana cara membangun kota.
Dengan demikian, Sunan Kalijaga diperkirakan hidupnya lebih
dari 100 tahun lamanya yakni sejak pertengahan abad ke-15sampai dengan akhir
abad 16.
